by

Sadranan Tradisi Nenek Moyang yang Perlu Dilestarikan Anak Cucu

nyadran

Ratusan warga Selo boyolali mengikuti upacara “Sadranan”, tradisi tahunan yang digelar di tempat pemakaman di daerahnya, Selain mendoakan para leluhur sadranan juga untuk acara silaturahmi kepada sanak saudara dan para tetangga.

Warga yang datang di halaman pemakaman leluhurnya tersebut membawa berbagai makanan khas setempat yang diwadahi dalam “tenong”, (tempat makanan berbentuk bulat yang terbuat dari anyaman bambu). Isi makanan dalam tenong bisa terdiri dari berbagai jenis makanan seperti jajanan pasar, kue atau roti, atau buah.

Sadranan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB diawali pembacaan doa-doa dan kemudian dilanjutkan dengan pembagian makanan atau kue-kue khas atau jajanan pasar. Tiap keluarga membawa satu atau lebih tenong, yang nantinya akan dibagikan pada seluruh warga yang hadir. Upacara Sadranan dipimpin seorang tokoh agama setempat dengan membacakan doa-doa.

Menurut Saryati (24), salah seorang peserta Sadranan di Kecamatan Selo, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sudah tradisi turun temurun sejak nenek moyang yang perlu dilestarikan oleh anak cucu untuk diperingati setiap tahunnya.

“Warga lereng Merapi di Selo Boyolali, lebih ramai saat upacara Sadranan dibanding Lebaran. Sanak saudara dan teman yang bekerja di luar daerah biasanya pulang kampung untuk mengikuti tradisi ini,” katanya. Selasa (09/12/2014).#Gilang

Comment

News Feed