by

Selamatan Giling Pabrik Gula Tasikmadu 2015

IMG 1264

Pimpinan dan Karyawan PG. Tasikmadu Kirim Do’a Bersama di Astana Giribangun Karanganyar, Guna Kelancaran Proses Giling 2015

Pabrik Gula Tasikmadu (PG) Tasik Madu yang didirikan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo / KGPAA Mangkoenagoro IV pada tahun 1971 yang terletak di desa Sondokoro, sebelumnya pada tahun 1861 beliau mendirikan PG Colomadu terlebih dahulu dan 10 tahun kemudian PG Tasikmadu berdiri yang merupakan kebanggaan tersendiri karena PG Colomadu dan PG Tasikmadu didirikan oleh Raja Pribumi. Di Karanganyar, sekitar 15 kilometer arah timur Kota Solo, Jawa Tengah.

Menjelang musim giling tebu 2015, pabrik gula menggelar serangkaian ritual sakral untuk keselamatan, diantaranya Kirim do’a Makan Leluhur Mangkunegara I-VIII, kemudian Petik tebu temanten, Upacara, Ketoprak, Wayang, Hingga pasar malem yang disebut cembengan. Digelar setiap awal bulan April, bulan di mana masa panen raya tebu datang. Selamatan Giling adalah ritual yang digelar sebagai pertanda dimulainya musim giling tebu dan juga sebagai wujud ungkapan sukur terhadap Tuhan YME.

Untuk Sesaji yang digunakan pada saat Selamatan Giling terdiri dari kepala kerbau sebanyak 7 buah, berbagai jenis jenang (bubur), kecok bakal, telor, kinangan, berbagai jenis tumpeng, berbagai jenis ketupat, palapendem, kembang telon yang semua itu ditempatkan di dalam Pabrik Gula. Acara penempatan sesaji ini dipimpin oleh seorang sesepuh pemangku adat, juga dihadiri Bupati dan seluruh jajaran Direksi dan karyawan.

Administratur PG. Tasikmadu Gito Prasetyo, B.SC S.P memaparkan agenda tahunan tersebut secara terun temurun sudah dilakukan sejak zaman PG. Tasikmadu berdiri, Selain itu upacara tebu temanten itu mengandung harapan agar kelak gula yang dihasilkan nantinya berlimpah dan kualitasnya bersih, sekaligus membawa berkah bagi karyawan dan warga sekitar pabrik.

“diharapkan upacara tersebut dapat memenuhi target yang di rencanakan kantor direksi sehingga karyawan dan petani tebu mendapat keuntungan yang diharapkan”, Tandas Gito Prasetyo, B.SC S.P (18/04/2015).

Proses Giling 2015

Untuk prosesi kirab tebu temanten tebu yang menjadi pengantin merupakan tebu pilihan, sehingga diperlakukan secara khusus dan khas untuk memilih tebu temanten dan pengiringnya. Selain batang tebunya dipilih yang paling baik dan memiliki rendemen tinggi,

Kronologinya sepasang tebu temanten pun didandani layaknya sepasang mempelai, tak ubahnya pasangan pengantin manusia. Sepasang tebu temanten tersebut sebagai simbol adanya tebu lanang (laki-laki) atau tebu yang berasal dari daerah lain, serta tebu wadon (wanita) yang ditanam sendiri oleh pabrik gula Tasik Madu.

Kemidian arak-arakan tebu temanten yang digelar pada Jum’at Pon bulan Mei 2015 yang diajukan satu bulan sebelumnya, diarak dari rumah dinas kepala tanaman pasangan tebu temanten dikirab bersama 14 pasang tebu pengiring keliling desa, menuju besaran atau rumah dinas administratur pabrik gula. Dari sepanjang pinggir jalan, warga mengelu-elukan kirab pengantin. Biasanya atraksi reog menyambut kedatangan tebu temanten dan pengiringnya di halaman pabrik gula.

Arak-arakan pengantin memasuki ruang giling, sepasang temanten tebu kemudian diletakkan di atas mesin giling, disusul kemudian 14 pasang tebu yang lain. Bergeraknya mesin giling itu pun menandai dimulainya proses giling tebu hingga 100 hari mendatang, sekaligus mengakhiri ritual cembengan di PG tasik Madu, Karanganyar.

Menurutnya tebu telah menjadi tumpuan harapan para petani, karyawan pabrik gula, dan orang-orang di sekitar pabrik. Air manis dari tebu yang digiling, yang nantinya akan menjadi gula, sungguh sangat berarti kehidupan dan kesejahteraan mereka. #Gilang & Chirom

Comment

News Feed