by

Hari Kartini Hanya Makna Seremonial, Namun Zero Spirit Masih banyak kejahatan dengan korban kaum hawa

Kartini 3

PacitanNews – Berbagai cara dilakukan orang ataupun organisasi pemerintah, dalam merefleksikan hari bersejarah. Tidak terkecuali peringatan Hari Kartini, Kamis (21/4) kemarin. Semua aparatur, khususnya kaum hawa yang ditugaskan di banyak satuan kerja perangkat daerah (SKPD) diwajibkan mengenakan baju kebaya, sebagai simbol peringatan pahlawan emansipasi wanita itu. Namun, apakah refleksi peringatan itu akan berujung dengan makna dari perjuangan seorang RA. Kartini kala itu? Hal inilah yang menurut beberapa pengamat, peringatan Hari Kartini hanya bernuansa seremonial, namun zero spirit perubahan. “Padahal, spirit Kartini harus dimaknai sesuai zamannya. Momentum Kartini perlu menjadi refleksi, evaluasi dan memantapkan aksi atas beragam masalah perempuan,” kata Susanto, Komisoner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Selasa (21/4).

Menurutnya, pada dinamika kehidupan nyata ditengah masyarakat, masih banyak permasalahan yang melibatkan kaum hawa sebagai objek masalah. Misalnya saja, perkawinan dini. Anak perempuan , banyak dijadikan objek atau korban kekerasan seksual. Bahkan, juga terjadi di lembaga pendidikan yang syarat dengan nilai. “Anak perempuan masih banyak menjadi korban kejahatan online, dikorbankan menjadi pemuas laki-laki. Tak jarang pula anak perempuan menjadi korban atas nama ‘nikah sirri online’ , ‘nikah kontrak’, ‘nikah pesanan’, atau nikah bawah tangan dan lain-lain,” beber pegiat organisasi asal Pacitan tersebut, kemarin.

Dengan berkedok atas nama nikah, tak sedikit perempuan punya anak dan menghadapi masalah tumbuh kembang. Harus diakui, Inilah potret masalah yg masih menjadi catatan pelik di negeri ini. Karena itu, KPAI mengajak untuk membangkitkan komitmen. “Cegah sedini mungkin setiap masalah yang melibatkan anak perempuan. Dan marilah kita beraksi untuk melindungi anak perempuan dari segala hambatan dan keterbatasan,” tandasnya. (yun).

Comment

News Feed