by

Anak Diluar Nikah, Boleh Mengurus Akte Kelahiran Hanya mencantumkan nama ibu, tanpa ayah

 

IMG 20150227 091956 hdr

Pacitan – Status anak di luar pernikahan sah, mendapat angin segar dari pemerintah. Itu seiring diterbitkannya putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 yang megaskan, bahwa anak yang dilahirkan diluar pernikahan, mempunyai hubungan perdata dengan ibunya, serta keluarganya. Selain itu, juga dengan laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan atau alat bukti lain yang menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarganya. ?Ketentuan tersebut memang akan lebih memperkuat hak-hak anak sebagai warga negara yang selama ini memang sempat terkebiri.

Setiap anak yang dilahirkan di luar perkawinan dalam hal keperdataan secara yuridis normatif tidak mempunyai hubungan dengan ayah biologisnya, meskipun diketahui secara pasti siapa ayah biologisnya. Sehingga seorang anak tersebut tidak dapat menuntut hak-haknya secara keperdataan baik dalam hal nafkah, pendidikan maupun warisan. Di dalam akte kelahirannya pun statusnya dianggap sebagai anak luar nikah, sehingga hanya dicantumkan nama ibunya selaku sosok yang melahirkannya. Pencantuman keterangan sebagai anak luar nikah dan tidak tercantumnya nama ayahnya akan berdampak negatif baik dalam tatanan sosial maupun psikologis anak dan juga ibunya.? “Anak di luar nikah mempunyai hubungan keperdataan dengan ayah biologisnya sepanjang dapat dibuktikan dengan teknologi atau alat bukti yang sah menurut hukum, sehingga kedudukan anak luar nikah seakan memasuki dunia yang akan mengayominya,” ujar Ari Januarsih, Kepala Bidang Perkembangan Kependudukan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Pacitan, Minggu (10/5).

Menurutnya, setiap anak yang lahir, entah dalam status perkawinan sah, nikah siri, ataupun diluar pernikahan, punya hak-hak yang sama. Sebab, mereka merupakan warga negara Indonesia. Tentu hak-hak mereka juga harus dilindungi, tanpa kecuali. Hanya saja, dalam proses kepemilikan akte kelahiran, memang sedikit ada perbedaan. Menurut Ari, bagi anak diuar nikah, memang hanya tercantum keterangan, lahir dari seorang ibu. Sedangkan status ayahnya memang kosong atau tanda strip. “Namun, hal tersebut bukan masalah. Yang terpenting, mereka tetap mendapatkan akte kelahiran, sebagai bukti status kewarganegaraannya,” tegasnya pada awak media.

Ari mengungkapkan, proses pengurusan akte kelahiran terhadap anak diluar nilkah, juga tidak sesulit yang digambarkan masyarakat selama ini. Yang terpenting, ibu dari anak tersebut masuk didalam salah satu kartu keluarga dan memiliki KTP. “Dari dua alat bukti, administrasi kependudukan itu, permohonan akte kelahiran sudah dapat diproses,” bebernya.

Namun, seiring berjalannya waktu, seandainya disuatu kemudian hari, kedua orang tuanya telah melakukan sidang isbad, status anak dalam akte kelahiran dapat diusulkan perubahan pengakuan anak dengan bukti surat pernyataan dari ayahnya. ?Hal tersebut juga berlaku bagi anak hasil pernikahan siri. Diakuinya, sistem perkawinan dibawah tangan tersebut, memang sah dari sisi agama. Akan tetapi dalam pranata aturan di negara ini, hal tersebut belum bisa diakui. Berbeda dengan anak hasil adopsi. “Setelah ada penetapan dari Pengadilan Negeri (PN), anak tersebut sah sebagai anak adobsi. Sehingga hak-hak keperdataannya bisa dipenuhi. Sebagai contoh, kalau orang tua adopsi seorang PNS, sudah bisa diusulkan tunjangan dalam draft gaji,” tutur pejabat yang lama bertugas di Dinas Pendidikan itu, kemarin.

Akan tetapi, soal akte kelahiran, memang harus dicantumkan nama orang tua sebenarnya. Sebab hal tersebut, untuk bisa diketahui hukum perwalian dari anak hasil adopsi tersebut. “Secara umum, anak tanpa kecuali, harus mendapatkan pengakuan status kewarganegaraannya,” tandasnya.

Sementara itu menurut data di Dispendukcapil, dari total jumlah penduduk di Pacitan yang tercatat sebanyak 576.442 jiwa, sebanyak 72 persen diantaranya sudah memiliki akte kelahiran. Sedangkan sisanya, sekitar 28 persen yang belum memiliki akte kelahiran. “Mayoritas mereka warga dewasa. Kalau anak-anak, hampir kesemuanya sudah ber-akte,” tutupnya. (yun).

Comment

News Feed