by

Pokja Raskin Blusukan Ke Pasar dan Kios Belum temukan adanya beras sintetik

Pokja Raskin Blusukan Ke Pasar dan Kios Belum temukan adanya beras sintetik

Pacitan – Sekalipun pemerintah sudah memberikan pernyataan, tidak adanya beras mengandung bahan sintetik plastik di pasaran, namun masyarakat tetap saja resah. Sebab kabar tersebut sudah terlanjur beredar luas dan terbentuk opini publik yang sulit dinetralisir. Karena pertimbangan itu, Kelompok Kerja (Pokja) Penyaluran Beras Miskin (Raskin) Kabupaten Pacitan, gencar melakukan operasi ke sejumlah pasar, ritel modern, serta kios-kios kecil penjual beras. Ketua Pokja Raskin, Pemkab Pacitan, Joni Maryanto, mengatakan, sejak kabar adanya beras plastik beredar luas, pihaknya langsung membentuk tim yang melibatkan Bagian Perekonomian dan Kepala Seksi Kesejahteraan Sosial (kesos) dimasing-masing kecamatan untuk segera melakukan sidak dan operasi pasar. “Sudah tiga hari ini, Pokja Raskin turun ke lapangan guna mencari tahu kebenaran atas beredarnya beras plastik di pasaran,” katanya, Kamis (28/5).

Joni yang baru saja menduduki pos jabatannya yang baru sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Sekkab Pacitan itu menegaskan, sekalipun tinjau lapangan yang dilakukan Pokja Raskin belum sepenuhnya tuntas, namun dirinya optimistis, kabar akan adanya beras plastik tersebut hanyalah isu. Sebab hingga hari ke tiga dilaksanakan operasi pasar, tim bentukannya sama sekali tidak menemukan indikasi bahan pokok yang mengandung zat kimiawi berbahaya, seperti halnya plastik. “Semua masih normal-normal saja. Tidak ada tanda-tanda dari buliran beras yang mengandung senyawa plastik,” bebernya pada wartawan, kemarin.

Pejabat yang pernah didapuk sebagai Staff Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) itu sangat percaya diri, kalau beras plastik itu sejatinya tidak pernah ada. Terlebih pemerintah dan institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sudah memberikan statement, tidak adanya beras dipasaran yang mengandung bahan plastik. Kalaupun pernah beredar kabar terkait beras sintetik, Joni mengungkapkan, itu hanya kesalahan penelitian yang pernah dilakukan salah satu laboratorium. “Jadi kami optimistis, kalau beras plastik itu sejatinya tidak ada,” tegas dia.

Saat dikonfirmasi ditempat terpisah, salah satu grosir beras di Pacitan, Evi Yuli Siswati, menegaskan, selama dirinya membuka usaha perdagangan bahan pokok, tidak pernah mendapati adanya beras yang di palsukan. Lain itu Evi beralasan, hampir mayoritas pedagang beras di Pacitan, tidak pernah mengulak beras dari luar negeri. “Paling jauh hanya di Delanggu, Jawa Tengah. Gak ada pedagang disini yang mengulak beras dari luar negeri,” timpalnya.

Kalau dari sisi kualitas, memang seringkali ia temukan. Akan tetapi, semakin buruk kualitas beras (bercampur buliran menir/kutu), harganya juga jauh lebih murah dari beras berkualitas. Namun diera digital seperti sekarang ini, beras-beras buruk hampir dipastikan, sudah tidak beredar lagi di pasaran. “Rata-rata kualitas beras sudah terjamin. Sebab sebelum dikemas, sudah disortir terlebih dulu,” jelasnya.

Terkait adanya beras dengan harga murah, Evi menegaskan, setiap beras akan dibanderol sesuai jenisnya. Meski belakangan, harga beras memang masih stabil murah. Misalnya beras jenis SP 36 dijual seharga Rp 10.000/kg, dan beras panenan Rp 7.500/kg. “Jadi tidak bisa dijadikan patokan, kalau beras murah itu dituding mengandung zat-zat berbahaya tertentu yang membahayakan bagi konsumen. Kalau sekarang ini harga beras murah, memang petani lagi panen besar,” tutupnya. (yun).

Comment

News Feed