by

Pemimpin Ideal Ala Hastabrata Oleh : Eko Joko Trihadmoko, M.Pd

eko joko

Kepemimpinan pada kurun waktu akhir-akhir ini merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik serta menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar dalam mengatasi krisis kepemimpinan bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam menghadapi pemilu, baik pemilu legislatife maupun eksekutif. Banyak calon anggota legislatif maupun eksekutif dalam kampanyenya mencitrakan mereka pemimpin yang baik, pemimpin yang mengayomi, melindungi, berpihak pada rakyat, dan mampu mensejahterkan rakyat, seakan-akan merekalah yang merasa paling tepat untuk dipilih menjadi seorang pemimpin. Kita juga sering mendengar dan melihat lewat tayangan media, baik audio maupun visual yang memberitakan tentang konflik-konflik politik yang terjadi di daerah maupun para elit politik di pusat pemerintah yang kesemuanya itu muaranya pada krisis tentang kepemimpinan. Entah itu ketidakpercayaan rakyat terhadap pimpinannya atau memang pemimpinnya yang tidak cakap dalam hal kepemimpinannya.
Melalui pemikiran yang berharap, akhirnya dapat disimpulkan bahwa wayang merupakan media pengajaran atau pendidikan yang baik. Lewat media wayang, masyarakat sudah mulai berani berpikir secara teoritis dan ilmiah. Sejatinya lakon wayang termasuk sebuah karya sastra yang fleksibel, dalam arti dapat berupa tulisan ataupun bentuk pementasan (perform). Hakikat sebuah sastra adalah sebuah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, ide, perasaan, semangat, dan keyakinan dalam bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan media bahasa.
Kepemimpinan (leadership) adalah kemampuan dari seorang (pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yang dipimpin atau pengikutnya), sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana yang dikehendaki. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya, kepemimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan memotivasi. Hal tersebut dapat dilihat dari keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung kepada kewibawaan, dan juga pimpinan itu dalam menciptakan motivasi dalam diri setiap orang bawahan, kolega, maupun atasan itu sendiri.
Ajaran Hastabrata pada dasarnya mengambil tamsil dari sifat kosmos yang mempunyai ciri-ciri sesuai dengan kodrat dan hukum Illahi, serta tidak akan pernah menyimpang dari kodratnya. Misalnya matahari terbit fari timur dan tenggelam di barat setiap hari. Unsur-unsur Hastabrata secara mikrocosmos terdapat dalam diri manusia. Ketika manusia menyadari hal tersebut dan mengerti akan kodratnya, maka akan terbentuk individu-individu yang arif bijaksana, penuh pengertian , sabar dan ikhlas, yang terwujud nyatanya adalah pengendalian diri. Ketika Hastabrata kita rujuk kepada hukum-hukum alam, dan secara vertikal kita hadapkan pada Sang Pencipta, maka yang terjadi adalah sebuah kesadaran bahwa semua laku (kegiatan) yang kita lakukkan merupakan sebuah ibadah.
Dari fakta yang ada menandakan juga telah terjadi pergeseran pemanfaatan ajaran Hastabrata. Jikalau dahulu Hastabrata diperuntukkan bagi para penguasa (pemimpin negara), maka dengan terjadinya pergeseran orientasi kepada benda-benda alam menunjukkan bahwa ajaran Hastabrata telah menjadi ajaran kerakyatan. Implikasi tidak hanya pemimpim yang perlu meneladi ajaran Hastabrata melainkan juga seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Berwatak Bumi
Seorang pemimpin hendaklah meneladani watak bumi. Bumi memiliki watak sosok yang dapat menampung seluruh makhluk hidup di dunia, bumi berwatak pasrah, rela (lila legawa), suci, jujur, teguh, kuat, dan sentosa. Dengan menggunakan simbolisasi watak bumi yang mampu menampung seluruh makhluk diharapkan seorang pemimpin mampu menerima seluruh lapisan rakyat (bawahannya) tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongannya. Ia harus bisa menerima dengan tangan terbuka seluruh rakyatnya walaupun masing-masing memiliki karakter, keinginan, perilaku, dan kepribadiannya yang berbeda-beda.
Berwatak Matahari
Matahari (Jw: Srengenge) lewat pancaran sinarnya mampu memberikan kehidupan di muka bumi. Sinar matahari mampu menerangi dunia dan merupakan sumber energi. Dalam tugasnya menerangi dunia, matahari tidak pilih kasih, semua yang ada dalam jangkaunnya pasti akan menerima kehangatan sinarnya. Entah itu makhluk hidup ataupun benda mati ikut merasakan kehangatan sinar matahari dan kadar panasnyapun sma dan merata.
Makna simboliknya bahwa seorang pemimpin harus mampu memberi penerangan dan sebagai sumber pencerhan lewat pemikirannya , ia harus mampu membangkitkan motivasi para bawahannya dengan demikan rajyat merasa mendapatkan semangat hidup dan merasa bahagia. Seorang pemimpin juga harus bisa berlaku adil dan merata dalam memberikan pelayanan kepada rakyatnya karena pada hakikatnya seorang pemimpin bukanlah penguasa yang minta dilayani oleh rakyatnya namun sebaliknya ia adalah pelayan masyarakat yang setiap saat harus siap melayani kebutuhan masyarakat. Ia tidak boleh membeda-bedakan suku, agama, kelompok, ras, dan strata sosialnya. Semua harus dirangkul dan mendpatkan perlakuan yang sma tanpa asa yang merasa disisihkan (di anak tirikan).
Berwatak Rembulan
Rembulan memiliki cahaya yang dapat menerangi kegelapan malam, maknanya seorang pemimpin hendaklah mampu meberikan pencerhan atau keluar terhadap persoalan yang dihadapi rakyat dan bangsanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa bulan mempunyai sifat memberkan penerangan disat gelap sekailgus memberikan rasa keindahan dimalam hari. Pemimpin dituntut untuk memberikan jalan keluar atau ikut dalam memberikan sumbang saran kepada anak buahnya yang sedang menghadapi kesuliatan baik secara kedinasan maupun secara pribadi. Di samping itu hendaknya pemimpin juga dapat menghibur anak buahnya yang sedang dalam kondisi sulit, sehingga meraka tidak hanyut dalam kesedihan.
Seorang pemimpin harus mampu menimbulkan semangat serta rasa percaya diri saat menghadapi krisis maupun kesusahan dan kesulitan. Pemimpin wajib memberikan pelajaran, penerangan, dan berusaha mengakat rakyat dari gelapnya kebodohan dan keterbelakangan. Cahaya rembulan juga tidak menyengat, masknaya dalam memberikan petunjuk atau arah-arahan pada bawahan tidak merasa sedang dinasehati atau dimarahi oleh pemimpinnya sehingga keharmonisan hubungan antara pimpinan dan bawahan/ rakyatnya tetap terjaga dengan baik.
Rembulan memiliki bentuk yang indah dengan cahayanya yang lembut bila malam tiba seakan-akan suasan terasa harmonis dan menyenangkan.
Berwatak Bintang
Bintang menggambarkan kepribadian, maqam atau posisi, bahkan cita-cita yang tinggi, kokoh, dan bersifat tetap sperti bintang di langit. Seringkali yang paling baik disebut bintang, misalnya “bintang kelas” sebutan bagi anak yang paling pandai di kelasnya, “bintang lapangan” sebutan bagi seorang atlit yang berpenampilan baik pada sebuah pertandingan olahraga. Begitu pula dengan pangkat yang tinggi dalam kemiliteran juga dilambangkan dengan tanda bintang. Hubungan dengan bintang sebgai cita-cita yang tinggi, maka seorang pemimpin harus selalu berpikir jauh kedepan. Setidaknya ia memiliki gambaran masa depan dan dengan segala potensi yang dimilikinya diarahkan untuk mewujudkan impian negarnya untuk lebih maju dalam segala bidang.
Pemimpin yang sukses selalu berpikir positif dan jauh ke depan. Bgi pemimpin yang berpikr positif tidak ada yang tidak mungkin. Semua menjdai mungkin apabila dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Di tangan seorang pemimpin dengan pola pikir positif rintangan menjadi tantangan dan pad akhirnya tantangan akan membuka peluang. Peluang menjadi harapan, dan selangkah lagi menuju pintu sukses.
Berwatak Api
Setiap pemimpin hendaknya dalam menegakkan hukum (peraturan) mampu meneladani sifat api yang mampu membakar dan menghanguskan apa yang diterjangnya. Makna simboliknya bahwa seorang pemimpin harus benar-benar berani bertindak tegas, berlaku adil, dan tidak pilih kasih dlam menegakkan supremasi hukum dan memberantas kejahatan. Tegas dalam arti dalam melaksanakan peraturan harus konsisten dan tidak mengenal kompromi terhadap mereka yang telah melanggar peraturan, sanksi harus diberikan bagi yang melanggar hukum, hukum harus di tegakkan.
Seorang pemimpin diwajibkan mampu membedakan antara haq dan yang bathil, benar dan salah menurut pandangan yang obyektif. Dalam memberikan sanksi harus bersikap adil artinya tidak memihak terhadap kepentingan pribadi pribadi ataupun golongan tertentu.
Berwatak Awan
Mendhung (awan) memiliki sifat menakutkan. Dengan kehadiran sosoknya yang menyeramkan berwarna hitam kelam dan terkesan angker sehingga menimbulkan perasaan takut bagi yang melihatnya seakan-akan mendhung akan membawa bencana. Sosok mendhung yang angker dan menakutkan mempunyai makna simbolis sebagai bentuk kewibawaan seorang pemimpin. Sebuah kepemimpinan tidak akan berhasil apabila seorang pemimpin tidak mempunyai wibawa dan kharisma, karena akan selalu dihina, dilecehkan, dan dipandang sebelah mata oleh bawahannya. Beda kiranya seorang pemimpin pemimpin yang penuh kharisma dan wibawa, maka banyak yang menaruh rasa segan dan hormat. Dari rasa segan dan hormat inilah mak segala perkataan maupun perintah seorang pemimpin akan dilaksankan dengan penuh rasa tanggungjawab.
Berwatak Samudra
Samudra atau lautan merupakan kawasan air yang sangat luas. Semua mata air, semua sungai pasti bermuara pada lautan dengan membawa bermacam-macam smapah yang dibawanya. Demikian juga seorang pemimpin diharapkan mampu meneladani sifat samudera, ia harus dapat menerima segala persoalan negara, segala sesuatu yang menimpa negaranya, segala keinginan rakyatnya. Dengan lapang hati dan keluasan akal budinya seorang pemimpin harus mampu menerima realita yang terjadi dilapangan. Seorang pemimpin juga harus memiliki ati segara artinya harus berlapang dada dan penuh kesabaran. Pemimpin tidak boleh menaruh rasa marah, dengki, dan benci walau selalu dikritik, dihujat, dihina, dicela, atau bahkan berusaha dirongrong kekuasannya.
Pemimpin yang baik adalah yang mampu menjadi pendengar yang baik, sering kali seorang pemimpin menjadi tempat berkeluh kesah atau curhat tentang permasalahan yang dibawa rakyatnya. Dalam falsafah Jawa, pemimpin yang baik harus bisa momot dan kamot maksudnya mampu menampung segala sesuatu yang terjadi yang diakibatkan oleh tindakan rakyat atau bawahannya.
Berwatak Angin
Angin memiliki sifat cerdik, ia mampu menelusup dan menempati segla ruang serta mampu hadir dalam situasi apapun. Makna simbolisnya seorang pemimpin harus mau terjun langsung ditengah-tengah rakyat untuk menjaring informasi danmenegetahui persoalan-persoalan yang sebenernya terjadi ditengah-tengah rakyat. Jadi tidak hanya mengandalkan laporan dari bawahannya saja yang sering kali hanya melaporkan hal-hal yang baik-baik saja dan bertolakbelakang dengan realita yang terjadi di lapangan.
Seorang pemimpin setidaknya: (a) mengetahui derajat keberhasilan negara dalam menyejahterakan rakyatnya; (b) mengetahui kekurangan-kekurangan pemerintahan yang dijalankannya; (c) mengetahui penilaian rakyat atas kepemimpinannya; (d) memahami dan merasakan langsung kesusahan dan kesenangan; (e) mengetahui tingkat kesejahteraan rakyatnya di setiap penjuru.
Dengan kemapuan leadership yang tinggi dari para pejabatnya dan disertai adanya sistem manajemen yang tepat serta pola kerja yang efektif, Hastabrata sebagai peninggalan yang “adiluhung” dari para leluhur yang mengandung perilaku kepemimpinan yang dalam maknanya, kiranya dapat diterapakan sebagai salah satu alternative dalam proses pembelajaran leadership disamping pola kepemimpinan lainnya.

PUSTAKA ACUAN
Imam Moedijiono. 2002. Kepemimpinan dan Keorganisasian, Jakarta: UII Press
Siswoharsojo. 1957. Pakem Makutharama. Yogyakarta: Pesat.
Sri Mulyono. 1982. Wayang dan Filsafat Nusantara, Jakarta: PT. Gunung Agung.
Wawan Susetya. 2007. Kepemimpinan Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Penulis adalah Guru Bahasa Jawa SMK Negeri 8 Solo dan
Mahasiswa S3 Linguistik UNS Solo

Comment

News Feed